Tujuh bulan ini tanpa janji, hanya cita-cita. Masa yang singkat untuk mengukur sebuah kesiapan. Siap melangkah dan mengambil resiko. Tanpa praduga pun penyesalan, hanya terkadang diam menanggapi perbuatan yang terkadang sembarang kalir tak terkendali.
Harapan selalu butuh usaha, dan disinilah kita, mendayung bersama.
“Ya sudah kalau ga bisa ikut, aku pergi sendiri hari Sabtu ini ya, trus nanti aku disusul hari Minggu”
“Kalau mau pergi duluan, pergi aja, ga usah disusul dan ga usah pulang-pulang lagi!”
“GEDUBRAKS”
Sudah 3 bulan ini kakiku diam tidak berloncatan kesana kemari melihat tempat-tempat baru. Sudah 3 bulan ini rutinitas harianku berubah drastis, duniaku dipenuhi hal baru yang menyita fikiran dan energi. Padahal sebelumnya tidak pernah aku tenang sepanjang lebih dari 40 hari, diam tanpa perjalanan.
Meski pada dasarnya penakut, meski tubuh ini tidak selalu kuat mengikuti keinginan hati, meski kaki ini seringkali lelah dan membawa raga jatuh tidak berdaya, meski kondisi ‘dapur’ seringkali kacau balau, tapi mimpi tetaplah mimpi. Untunglah aku selalu lupa dengan kesusahan, selalu lupa dengan lelah. Sehingga perjalanan-perjalanan kecil yang tidak masuk akal tetap dijalani. Perjalanan bagaikan dopping, injeksi yang membuatku kecanduan. Memberikan energi meluap-luap untuk melepaskan diri dari genggaman rutinitas tanpa seni.
Setelah perjalanan gila yang kulakukan antara Balikpapan-Pulau Derawan (hingga Pulau Maratua), hanya ada perjalanan kecil 3 bulan yang lalu bersama 3 orang wisatawan Belanda. Sebagai penunjuk jalan kubawa mereka pada seramnya penangkaran buaya, hijaunya hutan hujan tropis, panasnya pantai
Sayangnya saat ini semangatku harus direm sekencang-kencangnya. Tidak harus berhenti total, tapi harus kompromi
Qee yang sembrono dan tidak punya perhitungan harus sembunyi dulu. Pemikiran Qee yang lepas bebas dan cuek harus dibenam dulu. Kali ini kesabaran hati diberi ujian extra.
Arrghh,…
Aku merindukan bunyi gemerisik daun pisang yang ditiup angin kencang dibawah terik matahari. Aku merindukan bunyi gemericik air menghantam kaki-kaki dermaga ulin. Aku rindu heningnya malam berhias bintang gemintang terang tanpa terintimidasi benderangnya lampu jalan. Aku juga rindu rasa sepi, kesendirian dan keterasingan, ditemani kasur busa butut dan karpet robek dalam cubicle kayu murahan. Aku rindu hangatnya air laut menerpa wajah, mengangkat kakiku ke atas dengan posisi tidak seimbang karena tidak bisa berenang. Aku rindu rasa berdebar menghitung lembar rupiah, pergolakan berkecamuk dalam dada memperkirakan mana yang harus dibarter sebagai hak milik dan mana yang tidak. Aku merindukan tekad dan ketidak perdulian, wara wiri lintang pukang mencari posisi demi menekan shutter kamera, menjadi pemandangan tidak biasa, terasing dalam keramaian.
Ah, aku ingin lepas lagi….
Sayang…!
Ya?
Lihat gubuk disana? Jika kita harus tinggal di tempat seperti itu, maukah kau tetap bersamaku?
Tentu…!
Ah…sukurlah, kau bisa mengerti kekuranganku…!
Tapi harus ada internetnya!
GUBRAKS!!!!
Sebagaimana kodratnya hidup manusia ingin menjadi bagian dari suatu kebersamaan, sewajarnya jika kesehariannya berkutat dengan lingkungan sosial yang beragam. Berusaha menemukan kesenangannya dalam komunitas entah yang mementingkan rasa maupun yang mementingkan logika. Secara alami membawa diri dalam tatanan lurus ide dan perilaku. Bukankah kehidupan itu semestinya terbuka, dinamis dan terarah sebagaimana yang orang lain harapkan?
Namun alangkah malangnya jikalau kesemestian berkubang dalam leburan budaya itu sendiri yang akhirnya mencerai berai kemampuan untuk memahami diri sendiri dan orang lain. Mesti membuka mata, bahwa dunia ini tidak selamanya lurus, bahwa masalah adalah juga kodrat yang wajib dijalani dan nikmati. Kesulitan adalah hiasan hidup, katanya.
Menjalani sebuah kesulitan dan menghadapinya bukanlah apa-apa sakitnya jika dibanding harus bertanggung jawab pada jiwa lain. Inilah maha derita, yang memaksa untuk bisa mengukur seberapa besar kemampuan menanggungkan penuh sesaknya pemikiran. Seberapa jauh kepala ini bisa bertoleransi, dijejali ide-ide gila bagaimana cara menghilangkan rasa sakit nan bertubi-tubi. Healing bagi diri sendiri dan jiwa lain yang menjadi tanggungan.
Mampu menghalau rasa bersalah, demikian seharusnya kunci keberhasilan keluar dari sebuah kesulitan. Mengendalikan diri dan bersabar hati, agar bisa menguatkan pihak yang dilindungi dari persepsi salah disana-sini. Memberi pemahaman padanya -dan juga pada kepala sendiri- bahwa semua ini hanya karangan tak terpuji, kekuatan yang dieksploitasi oleh pihak tidak bertanggung jawab. “Lidah-lidah api mereka yang begitu lihai memainkan maha daya kata, tidak perlu dipercaya.”
Mencintaimu….
Adalah menghayati seberapa jauh kau menghayati hidupmu. Adalah merasakan caramu merasakan sesuatu. Adalah memahami caramu memahami.
Mencintaimu…
Adalah perlahan-lahan mengumpulkan memoar bersejarah, satu persatu demi menggenapi pemahaman atas adanya dirimu seutuhnya. Dengan penuh kesabaran melengkapi tiap potong puzzle yang kau cecerkan. Menemukan potongan yang masih terlihat berkilau, lalu bergembira. Menemukan potongan yang rusak dan pudar, lalu bersabar.
Menyayangimu…
Adalah menghormati didikan seumur hidupmu, menghormati pendapat dan keinginanmu, menghormati tata dan budaya tempatmu berpijak.
Menyayangimu…
Adalah berkompromi dengan rasa dan logika. Adalah belajar berpegang teguh pada janji, menyeimbangkan fikiran dan hati.
Sebab aku….
mencintaimu…
Qee
Perjalanan,….
Selalu memberi kesempatan untuk membuka mata, untuk melihat hal-hal yang sebelumnya tidak pernah tampak maupun yang sudah sering dilihat. Dan jika nanti sudah kembali, alangkah baiknya pulang membawa kesadaran penuh atas apapun yang telah di lalui. Sejarah dan kenangan itu tidak akan mati, sebab selamanya akan jadi pelajaran, melekat dalam fikiran.
Siapa diri ini, siapa dirinya, batas-batas yang tadinya samar menjadi semakin nyata dan meyakinkan.
Kata-kata itu tersimpan rapat dalam kepala, sulit termuntahkan. Mungkin memang sedemikian seharusnya, agar nilai-nilai positifnya tertanam sempurna. Mejadi hak milik pribadi, tak terjamah dan terkotori.
Hiduplah sebagaimana seharusnya, dikenalkan dan mengenalkan diri pada kesalahan. Di beri pelajaran dan mempelajari rasa sakit, lalu dengan bijak menikmatinya.
Menyesal??…Tidak!!
Untuk itulah, masih ada hidup esok hari,….
Qee-P.Maratua, 171007
Aku sengaja memakai baju pink kesukaanku hari itu karena ingin menemui kerabat yang tidak pernah terbayangkan akan sejauh itu kudatangi. Tapi sayang aku basah kuyup dan terlihat mengenaskan diguyur derasnya hujan
Berkali-kali aku harus membuang muka dan pura-pura tidak melihat jika ada pengemis yang memergoki aku sedang menatap mereka. Aku mempelajari
Mungkin terlambat, tapi aku harus mengenangnya.
kriing…kriing..
“Halo”
tidak ada suara…tut…telpon di tutup
kriing..kriiing..
“Halo”
“Kenapa sih langsung di tutup”
“Nda ada suaranya. Aku baru mau telpon ba…”
“Ya tapi kan bisa ditunggu sebentar!!”
“Wong ga ada suaranya ya biar ditunggu ga bakalan muncul!”
“blah..blah..blah…!!”
Selanjutnya setelah perbincangan terputus aku pasti langsung menangis dan mengomel.
Kawans,
Seringkali aku merasa kelelahan menghadapi orang tuaku. Bukan karena mereka sering berbuat seman-mena, sama sekali tidak, sebab mereka orang-orang yang penuh kasih sayang. Bukan juga karena aku tidak menyayangi mereka, mereka adalah akar hidupku jadi tidak mungkin aku tidak mencintai mereka. Kami juga tidak bertengkar, tidak saling membentak, sebab yang seperti itu sangat tidak dibenarkan oleh siapapun dalam keluarga kami. Tapi sesekali dalam keluarga pasti ada ’selip’ yang terjadi dan menyakitkan hati.
Ketika kata-kata ‘agak keras’ dilontarkan begitu saja, seringkali menimbulkan ketegangan yang luar biasa. Keadaan demikian diperparah dengan ketidak mampuan saling meluruskan. Misalnya ketika ayahku memunculkan protes seperti adegan diatas, umumnya hanya disebabkan rasa sebalnya pada handphone yang seringkali tidak bisa memberikan koneksi absolute: langsung pencet langsung sambung. Namun pemahamannya bahwa perangkat elektronik bukanlah jantung manusia yang tiada cela pada sistem kerjanya sangatl minim. Sementara menurut versi-ku, aku harus memutus pembicaraan segera agar tidak menghabiskan pulsa dan bisa segera menelpon balik. Namun keterkejutan ayahku atas diputusnya telpon beliau akan memunculkan kegusaran sehingga alasan apapun yang kukemukakan tidak akan berhasil meyakinkannya. Kemudian tentu saja aku akan merasa makin rapuh sebab mendengar gelegar kemarahan begitu rupa. Konsentrasiku akan buyar seketika dan apapun yang kukerjakan tidak lagi menghasilkan apa-apa.
Seringkali aku hanya duduk diam, berargumen dalam kepalaku sendiri tentang kejadian yang menyakitkan tersebut. Mengucapkan kata-kata ayahku dan membalasnya dalam kepalaku saja. Berkhayal jikalau itu adalah adegan sebenarnya di dunia nyata. Kemudian menangis lagi, sebab aku tidak kuat berargumen dengan orang lain. Aku bukan orang yang suka ‘ngotot’ dalam mengungkapkan sesuatu sehingga sering sekali kecewa dengan diri sendiri sebab tidak dapat mendiskusikan hal yang sebenarnya ingin diungkapkan. Dengan diam-diam mencari kepuasan beradu kata-kata dalam khayalan.
Bagi orang tua amatlah mudah membentak anaknya, memarahi dan meluruskan jikalau sang anak berbuat kesalahan. Namun seiring waktu sang anak pasti juga akan makin dewasa. Pemahamannya tentang berbagai hal akan berkembang. Kebijakan berfikirnya juga akan meningkat. Namun bukan hal yang mudah untuk ‘meluruskan’ pemahaman orang tua jika sesekali dianggap ‘kurang lurus’. Itu sangat tidak mudah, melakukannya harus dalam proses yang panjang dan melelahkan. Salah satu hal yang sulit adalah mensosialisasikan pada orang tua mana hal yang semestinya dianggap biasa dan mana yang pantas ditanggapi serius. Sebab kedua pihak hidup pada era yang berbeda dengan olahan memori yang jauh berbeda pula.
Mereka adalah orang tuaku, aku boleh marah namun tidak pantas menyimpannya dalam hati. tentu saja sebentar lagi kami akan bertemu dirumah, makan bersama, nonton bersama dan saling menggelitiki sambil bersantai di depan tivi. Tapi tetap saja setelah menancapkan paku lalu mencabutnya kembali, akan ada lubang yang tersisa. Tragedi-tragedi kecil itu akan meninggalkan bekas yang bisa kuingat selamanya. Meski bukan berarti akan terus menerus dipermasalahkan, tapi tetap saja terasa mengganjal dan menimbulkan kebingungan bagaimana harus bereaksi kalau hal yang sama terjadi lagi.
Di satu sisi hal ini pasti bisa mendekatkan oranrg tua dengan anak sebagai jalan mengeksplorasi sifat masing-masing, tapi di satu sisi tentu berdampak tidak menyenangkan bagi kedua pihak, itu pasti.

Selamat ulang tahun, Qee! (e-card dari diri sendiri untuk diri sendiri, mesakne tenan)
Hari ini aku mau makan enak! Itu aja! Fiuuhh..hari ini aku tidak punya banyak kata-kata seperti biasanya, terlalu banyak hal yang ingin dan harus kukerjakan, menguras semua energi untuk mengarang. Yang jelas aku memberi diriku sendiri hadiah berupa ‘cangkang baru’. So, kawans…mohon diganti URL-nya ya, maaf merepotkan.
——
aku teruskan deh ceritaku.
Hari ini aku merasa bahagia, sangat bahagia, entah kenapa. Meskipun setiap tahun ada saja yang mengucapkan ulang tahun baik melalui sms, telpon, maupun email. Meskipun sejak mengenal Imty dan Aman 3 tahun lalu mereka selalu menyempatkan diri mengirim sms atau menelpon yang pasti membutuhkan banyak sekali uang, meskipun sesekali mendapat pemberian dari teman seperjuangan, tapi tidak setiap hari ulang tahun aku merasa bahagia.
Pagi ini semua staf kantor berkumpul mengitari meja mungil yang diatasnya dipenuhi makanan buatan ibuku sehari sebelumnya. Saling bercanda dengan wajah tidak sabar ingin segera melahap apa yang kubawa dari rumah. Kemudian bos besar mulai memimpin doa sehingga kami bersama sama menengadahkan tangan dan merunduk. Rasanya nyaman sekali mendengar namaku disebut dengan lengkap diantara kata-kata mantra semoga…berikanlah…mudah-mudahan…lapangkanlah…dan lain sebagainya. Terasa manis dan menyenangkan. Kekosongan sepanjang hari terasa hilang dan dipenuhi kebanggaan bahwa hari ini seluruh perhatian diberikan padaku.
Mungkin juga karena aku memang sedang merasa senang, sebab beban beberapa bulan belakangan telah berkurang. Yah, aku punya beban berat di kepalaku, yaitu ide-ide aneh namun aplikatif tentang banyak hal. Salah satunya adalah membuat weblog ini, yang memang benar-benar menguras tenaga dan fikiranku. Bukan karena aku kelelahan mengerjakannya, tapi aku tidak kuat menahan ide tetap di kepala. Jadi begitu ide itu terwujud dan aku bisa mulai mengerjakannya terasa semua beban mulain rontok satu-satu. Dan hari ini aku lega, sebab aku tau apa saja yang harus kulakukan dan dari mana memulainya. Hal ini menambah kebahagiaanku hari ini.
Saat ini, setiap kali melihat angka 23-08-07 di layar hp, di kalender, di tampilan web, di mesin kasir, dan dimana-mana …rasanya bahagia sekali.
Oh iya,..terima kasih untuk Mentega Terbang, sms-nya adalah sms pertama dengan tema ucapan yang datang tanpa diduga (soalnya yang lain baru kirim setelah aku mencak-mencak ^_^)
Ah….aku manyun…
Setelah beberapa bulan tanpa kabar, ditambah lagi aku kehialang nomor kontak kawan-kawanku sejak aku kehilangan hanphone di Jakarta Juni lalu, tiba-tiba rekanku Imty -seorang jurnalis senior BBC London dan beberapa News Office terkemuka- membalas emailku dengan mengatakan bahwa masa pendidikannya yang ditanggung penuh beasiswa di Knight Fellowship-USA sudah berakhir. Dan dia baru saja menunaikan umrah ke tanah suci. Sekembalinya dari sana dia pulang ke tanah kelahirannya Pakistan dengan tugas meliput keadaan terakhir di perbatasan Afganistan untuk Washington Post. Hyperlink yang dikirimkannya padaku berisi semua artikel hasil kerjanya yang begitu banyak jumlahnya. Rupanya saat aku sedang santai menonton berita mancanegara di televisi di rumah, disana dia sedang berjuang keras memasuki wilayah perbatasan dan meliput berita penculikan warga negara Korea oleh Taliban. Saat kutonton berita penculikan itu di televisi lokal, disana dia sudah bersibuk-sibuk ria mewawancarai pihak garis keras. Lagi-lagi saat berita itu sampai padaku dia sudah berpindah lagi mencari berita di titik lain.
Dia punya kebanggaan, punya semangat, punya prestasi dan semakin memperluas peluangnya meraih impian menjadi jurnalis yang mendunia.
Tiba-tiba pula aku ingat Sensei, pengajarku dalam kursus singkat. Orang yang selalu ingin kudengarkan cerita-ceritanya yang dibawakan dengan sangat cuek dan tanpa beban. Dalam sms terakhirnya disela-sela kesibukan yang padat diberitakan bahwa minggu ini dia akan ke Palembang menjadi interpreter. Pekerjaannya sebagai penerjemah terus saja mengalir dan dalam waktu dekat setelah menyelesaikan pendidikan dalam beasiswa dia akan bekerja ke Jepang.
Arkham juga akan bekerja ke Papua sesuai cita-citanya segera setelah pendidikannya di Jogja selesai.
Veigh juga akan sekolah lagi. Cita-citanya kuliah di bidang teknik komputer melalui beasiswa penuh akan terwujud sedikit lagi.
Hilman semakin hebat saja dengan kamera barunya, sudah pantas menjadi senior dan tempat berguru meskipun awalnya aku belajar lebih dulu darinya tapi nyatanya aku tertinggal jauh baik dalam kuantitas maupun kualitas.
Sementara adik-adik kelasku masa SMA, yang dengan mereka luntang luntung kesana kemari mencari referensi untuk perlombaat demi mengejar impian bisa dapat hadiah keluar negeri sekarang malah benar-benar sudah jauh meninggalkanku. Sukardin sedang bekerja di Prancis, lalu Patsy juga bekerja di Inggris. Tiwi masih kuliah di Jakarta dan satu lagi -aku lupa namanya- sedang kuliah di Bali.
Tentu saja pada mereka aku ucapkan selamat dan dengan sepenuh hati turut berbahagia atas pencapaian mereka masing-masing. Tapi…tetap saja aku cemburu. Aku juga ingin bergerak dan berbuat…merasakan semangat seperti mereka…mencapai sesuatu yang benar-benar aku inginkan…
Aku harus berusaha kan ya?..
Tapi aku manyun,… ulang tahunku sebentar lagi dan uang yang tersisa tinggal Rp 1.000,-
fiuuhhh…